HIDE LIST

No.01

Satu perputaran melintas lagi…………

Jauh masih mata ingin lepas pandangnya
Hasrat jangkaukan tangan meraup yang belum teraih
lagi kerahkan segala milik nikmati s’luruh

Kala memang bukan tempat bersandar
pun ia jadi pengiring perjalanan
…… catatkan kenang
…… nuansakan pesona
…… gugah harap jiwa

Nyatanya masa enggan bertepi
tak berpangkal
pula tak berujung

Segalanya hanya bayang Sang Waktu 

Cambridge – Jakarta, 10 – 11 July 1995

No.02

Sejak layar menepi
‘luruh indera miliki kuasa
rasa
ungkap

Adalah panggung ‘kan wujudkan tempat berlaga
Ialah para pemeran teman karyakan dunia, negeri hidup

Latar berjalan, mungkin berubah
dan pentas berlaku dalam babak
Tapi
sikap cermin tokoh
tiada berbeda dengan peran

Ini tengah permainan tanpa naskah
…maka jadilah Sang Pelaku
(kelak terkata: “Satu skenario selesai sudah.”)

Surakarta, 29 Maret 1996

No.03

Lembar–lembar ini milik petualang
pencari makna hembus nafas
 
Surya memang tak selamanya temani
Perjalanan tak senantiasa bersahabat
tapi langkah tantang ditapakkan
 
Kala tak berputar mundur
Hingga tiap jejak adalah saksi
..sirat surat sejarah
..gambar potret-potret masa
 
Pena tergenggam,
biarkan ia menari di atas waktu
senandung rangkai baris kata terindah
tuk jelang hari-hari
 
( … Buku tak berbingkai ini catatan hidup)

No.04

Jejagat t’lah telanjang jubah
biarkan segala milik lepas
dan berbagi

Pandang binar mata hanya awal kekaguman
Jalan atasnya mula penikmatan
Toh, tak semua ‘kan teraup dalam genggaman

Yang sungguh,
Adalah satu ruang tersedia
…… antara sejumlah yang ada

Ambil dan miliki
Itu pemberian ‘tuk berlimpah
berputar seiring bersama karya Sang Jagat

Jakarta, 02 Oktober 1997

No.05

Tubuh ini pena
tinta pengukir

Bilamana hari terjelang
hadirkan rupa-rupa cakrawala tak duga
Saatnyalah tuang apresiasi
….. karya
meski kadang noda tertumpah.

Tanggal mulai terbilang
Goresan masih berlanjut
Dan lembar beraneka tersusun.

Petualangan terus berjalan – semua hanya t’henti kelak
hingga raga mendebu untuk satu penyelesaian tertinggal
…… Buku Persembahan bagi segala sahabat.

No.06

Bermula dari benih ……

Keindahan memang tak hasil dengan mudah
Lebih kala alam coba enggan b’sahabat

Dalam sentuhan
…jamah ramah
…lingkungan dan rawat penabur
Kembang t’lah tampakkan,
mekar perlahan antar hijau.

Lahan ini tempat s’tiap bunga tebar kharisma
bagikan harum dan warna
bahkan ceria – segala yang pernah terima – pada lain
…… senyum ……

Peduli apabila nanti saatnya berganti
antara gugur dan silih baru
Di taman ini ……
…… kasih senantiasa janji bahagia !

Jakarta, 14 February 1998

No.07

Melayang bebas
terbang lepas tuju pulau cita……

Adakala tercipta s’bagai halusinasi
paksa jadi bayang kesemuan semata, lalu terpaku
….oleh luar batas keutuhan

Bila memang tak kuasa bentang-kepak sayap
Tebarlah semua pada hamparan halus
Kelembutan mega Yang Maha Tinggi
Tertawa – becanda….

Perlukah gundah menanti
Resah gelitik Tanya
: Bilakah akan tiba masanya?
Toh, mungkin terlebih perhentian mendahului
Dan berakhir tanpa sempat beri kepenuhan arti

Tiada perlu kepastian mendatang
Karena berserah bisa berarti pula tiada daya
(..meski upaya tiada henti…)

sekitar Juni, 1998

No. 08

Semesta berbinar ……
pancar, hanyutlah dalam kahrisma

…… larut ceria menanti fajar
…… terpaku agung senja
…… lena hening malam
Pesona !

Beradalah disini,
waktu satwa suara nada
…… hendaklah nyanyi direnggut
Mana dunia gambar dirinya
……hasratkah lukis b’bingkai

Menghadap pada tawaran alam ……
Perlukah perduli akan milik
…… bila segala datang dan pergi

Karawaci, 31 Agustus 1999 – 5.30 am

No.09

…… sekitar satu ……

Gelora raga mengatas bersama jiwa !
takdirkah ini olehNya
ketika manusia berpasang
berada dalam cinta

Pagi ini,
ragu menanya tentang utuh hati
Sayangkah dan Cintakah
? ?

‘pabila ……
lepas berahi tubuh
…… dalam ketulusan nurani ……

Jakarta, 11 September 1999

No.10

Masuk, terimalah surga karunia bagi jiwa
dimensi kasih antar pribadi

Tempat emosi bermain dalam gairah m’rasuk
bersama nyanyian, biarkan hasrat hanyut menari
berenang pada hangat rentang gelora

Manakah pernyataan abadi tuntas tergapai ?

Di sela nikmat peluk sensasi, jangan mimpi damai !
Kehausan milik adalah ego manusia
…… yang tutup benak oleh kuasa rasa

Selama ada indah masih selalu terjanji di hadapan
ruang cinta ‘kan nikmat dan menyiksa
rindu ‘tuk tinggal selamanya – enggan terlepas
…… candu ……

Karawaci, 17 November 1999

No.11

Sesaat larut keheningan,
mana ceria bumi meredup
…… luruh seolah menduka ……

Kiranya pun jiwa kekal adanya
Raga harus mengabu
maka bersama hari jadi berarti
lirih kala bercerai

Perlu apa hadir airmata ……?
perjuangan melelahkan
ini suka bila Tuan perkenankan hamba b’satu
beri lindung damai oleh kuasa

Baiknya senyum bahagia
karena tuntas lingkap sudah kefanaan !!

Desember 1999

No.12

Disini sejenak bernaung teduh
……legakan penat dan lelah

Berpaling terdiam,
tiada raga kuasa ronta kembali
ulang benahi jejak tertinggal
terlahirlah hakekat diri bersama laju waktu
gapai tujuan samar jauh terhampar

Sesekali memang bukan pilihan berkenan
lepas saja tanya ‘kan arah makna keberadaan
– apa tak menanti punah terjawab –
Berbuatlah saja, hingga batas cakrawala
demikian prasasti terbangun pada setiap tempat dalam pengembaraan

Bali, 8 January 2000

No.13

…lelahkah dalam pertarungan tanpa akhir…

Dan kelabu alam ini
hingga berperanglah pribadi akan nista
dalam kemualiaan terang
sebagaimana terajar lurus pikir dan laku

Layaknya bersiap pada kecewa
S’bab kan berulang akngkara terlindung
tanpa gusar dan tergeming oleh batas manusia

Demikian, letakkan nurani KEKAL
dimana jirat kelak tertanam tuntaskan kuasa fana dunia

Juli 2000

Legenda Tanah Sana

Terngiang legenda tirta….
…mana gemercik tercipta iringi langkah pagi
…butir tetes ada tuk segarkan dahaga terik tengah hari
…pula, guruh debur jadi tawa sahabat lelap dunia impian
Samudera ini hakekat berkah Sabda.

Nyata : cerita tlah sabak
tapi durja metropolitan sibuk bersolek
dalam gerlap pernik
bertopeng kosmetik bergincu
Pesat putarnya enggan, tampik gurat gores tercermin.

Sungguh, air tersisa berkeruh
Terjang dan hempas pesona pernah ada
Silih,
babat babak indah amarta

…………keramakah?!

London, 2005

Yang Terjanji Cinta

Tiada terjanji lena buaian,
bukan hanyut warna mimpi,
hanya belai pengharapan mungkin di tawarkan.

Layak segala keabadian yag enggan terjamah
bertapak berserah
pada nyatalah berpijak

Langkah bersama…
tak acuh pada cerah indah kelam muram kembara
niscaya berdekap
senantiasa

Dalam rupa corak ziarah cita
….demikian hamparan kasih cinta terikrar.

London, 9 February 2008

VIEW LIST

No.09

-->

…… sekitar satu ……

Gelora raga mengatas bersama jiwa !
takdirkah ini olehNya
ketika manusia berpasang
berada dalam cinta

Pagi ini,
ragu menanya tentang utuh hati
Sayangkah dan Cintakah
? ?

‘pabila ……
lepas berahi tubuh
…… dalam ketulusan nurani ……

Jakarta, 11 September 1999